Terjadinya pandemi covid-19 tidak membuat  panitia Malang Film Festival (MAFI Fest) 2020  kehabisan akal untuk melangsungkan malam penghargaan dan pemutaran film penutup. Walaupun sempat mengalami penundaan karena adanya kendala teknis, panitia MAFI Fest 2020 akhirnya dapat mewujudkan acara tersebut. Rangkaian akhir dari pagelaran MAFI Fest 2020 ini dilaksanakan pada hari Minggu (23/8) tepat pukul 19.00 WIB melalui live streaming youtube di akun Malang Film Festival.

Melalui sambutannya, bapak Dr. Fauzan, M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengungkapkan rasa terima kasihnya “saya menyampaikan terima kasih  kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras untuk menyukseskan pagelaran MAFI Fest 2020”. Selain itu ia juga berharap agar  pengalaman yang selama ini digeluti oleh panitia MAFI Fest 2020 dapat bermanfaat untuk kehidupan kelak.  “Pelaksanaan MAFI Fest 2020 memang ada sedikit perbedaan,  yang mana pada saat ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem online atau daring, ” ucap Rahadi, M,Si selaku pembina Kine Klub UMM. Dengan diselenggarakannya pagelaran di tengah-tengah pandemi ini  ia juga menghaturkan permohonan maaf jika terjadi banyak kekurangan serta hal-hal yang kurang berkenan di hati para peserta dan berusaha untuk lebih baik dalam mengakomodir kebutuhan para peserta juga sineas yang telah ikut berpartisipasi.

Bagian yang ditunggu-tunggu pun tiba, pengumuman pemenang program kompetisi yang diumumkan oleh Reza Fahri, Kusen Dony, dan Raksa Santana sebagai juri kategori fiksi. Wilhy Bara, Devina Sofiyanti, dan Ismali Fahri selaku juri kategori dokumenter. Berikut adalah empat pemenang dari masing-masing kategori, ialah :

Fiksi Pendek Pelajar : Kampung Ghibah karya Muhammad Mikdad

Fiksi Pendek Mahasiswa : MOLE karya Dimas Dwi Wardhana

Dokumenter Pendek Pelajar : Halang Rintang karya Bertrand Valentino

Dokumenter Pendek Mahasiswa : Prison: a Short Intruduction karya Suharditia Trisna

Sementara itu acara ini di akhiri dengan pemutaran film Bura karya Eden Junjung. Film yang diproduksi pada tahun 2019 ini menceritakan tentang  awal masa transisi politik 1998, rumor ninja pembunuh beredar di daerah Tapal Kuda-Jawa timur. Ninja ini muncul pada malam hari dan mengincar para Kyai dan guru mengaji. Para santri berjaga malam untuk melindungi Kyai mereka. Namun dalam situasi genting ini, satu santri nekat menemui kekasihnya. Walaupun diputar secara online, film yang berdurasi 12 menit tersebut tidak mengurangi antusias penonton.

Dengan berakhirnya seluruh rangkaian Malang Film Festival 2020 membuktikan bahwa keadaan saat ini tidak menjadi batasan untuk tetap  produktif dan kreatif. Mengusung tema restorasi dan tetap menghadirkan program-program seperti tahun-tahun sebelumnya melalui media yang baru. MAFI Fest 2020 berhasil menciptakan momentum untuk para sines agar bertemu dan berjejaring tanpa batasan ruang dan waktu, memulai untuk merestorasi realita dan kebiasaan-kebiasaan lama dengan tatanan baru untuk menjadikan perfilman indonesia menciptakan eskalasi karya-karya dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik lagi. (noy)