Pagelaran Malang Film Festival 2020 kali ini dilaksanakan secara daring. Pada tanggal 19 Agustus 2020 sampai 21 Agustus 2020, Program Kompetisi menjadi salah satu rangkaian acara dari Malang Film Festival yang diminati para sineas. Adanya pandemi COVID-19 tidak menjadi penghalang untuk Malang Film Festival tetap hadir menemani penikmat film. Dalam penayangan film tiga hari berturut-turut ini dengan jumlah 15 film fiksi dan 8 film dokumenter diputar dengan membaginya menjadi 5 sesi.
Sebelum mengikuti berbagai rangkaian acara Malang Film Festival 2020 para peserta diharuskan untuk mendaftar terlebih dahulu acara yang akan diikuti. Dengan begitu para peserta akan mendapat email dari Malang Film Festival yang berisi link untuk masuk ke acara yang telah dipilih oleh peserta.
Pada saat diskusi peserta sangat berantusias dalam mengikuti diskusi melalui zoom, terlihat peserta yang menyimak filmmaker saat berbagi kisah dan pengalaman pembuatan film. Ternyata sebagai filmmaker harus memperhatikan hal-hal kecil yang ada disekitar kita. Salah satu film dokumenter yang manarik penonton adalah “Annuqayah; Menuju Teater Pesantren”. Ahmad Faiz mengambil lokasi pesantren tertua di Madura karena Faiz sendiri pernah menjadi santri di pondok pesantren tersebut. Dalam film ini Faiz ingin menyampaikan bahwa kehidupan pesantren jauh berbeda dengan apa yang mereka lihat. “Tidak hanya mengajarkan agama, pesantren juga mengajarkan kesenian seperti teater dan olah vokal” ujar Faiz.
Pada hari ketiga, film yang ditayangkan tidak kalah menarik dari film di hari sebelumnya. Salah satu film yang menarik adalah “Kampung Ghibah”. Dimana semua warga yang suka berghibah mendapat masukan dari tukang sayur kampung tersebut untuk memberikan cerita dongeng kepada anak mereka masing-masing. Tujuan dari tukang sayur itu supaya ibu-ibu mengurangi kegiatan mengghibah dengan kegiatan yang lebih bermanfaat untuk mereka maupun untuk anak mereka. Dengan begitu kampung yang dikenal sebagai kampung ghibah sekarang berubah nama dan telah diresmikan sebagai “Kampung Dongeng”.