Program Kuratorial : Film, Pembuat dan Penonton

     Saya memahami film sebagai bentuk realitas virtual yang menceritakan suatu kisah yang akan membuat penonton memahami, mendalami dan menikmati apa yang mata mereka saksikan. Film, Pembuat dan Penonton, tiga entitas yang menurut saya tidak bisa di pisahkan. Entitas-entitas itu membentuk suatu rantai yang tidak pernah putus bila digabungkan dengan entitas lain seperti dsitributor, eksebitor dan lain-lain.

     Film ada untuk menceritakan sesuatu, paling tidak itu yang saya pikirkan mengapa film dibuat. Hantu Mekanis karya Tunggul Banjaransari lebih memilih untuk merekam bagaimana warga desa Welzow menikmati hari-hari mereka dibanding sebuah ironi dimana desa tersebut dikelilingi oleh situs penambangan batu bara pribadi yang tentunya sangat merugikan masyarakat desa itu. Meski adanya ambisi untuk memberontak sebuah ketidak adilan yang dirasakan oleh kelompok manusia itu, namun, kegembiraan lah yang terekam lebih diceritakan di banding menyampaikan sebuah intimidasi yang terjadi pada mereka.

     Di lain pihak, para pembuat film di Gaza yang saat ini masih merasakan konflik tertorial tetap memperjuangkan hak mereka sebagai pekerja seni dengan tetap berkarya. Pada film Gaza .. Holywood karya Saud Muhanna mendokumenterkan sebuah proses pembuatan film oleh sebuah komunitas pembuat film yang tinggal di kota Gaza. Pada aspek lain, adanya subjek yang gambarkan memiliki disabilitas namun ia tetap berusaha mengejar mimpi untuk menjadi seorang atlet adalah suatu penggambaran yang sangat jelas bagaimana komunitas film tersebut tetap ada ban tetap berkayra dengan keterbatasan dan kondisi lingkungan yang cukup berat.

     Setelah berbicara tentang bagaimana film dapat menceritakan suatu kisah dengan sangat abstrak dan bagaimana pembuat film berusaha memperjuangkan karya mereka agar dapat di tonton, kritik dan diapreasi oleh penonton, mari berbicara tentang penonton. Pada film What’s Wrong With My Film karya Roberto Rosendi menggambarkan sudut pandang penonton yang resah dan mengkritik bagaimana kebijakan akan sesnsor film di negara kita. Dengan cerita yang singkat dan pengaplikasian sensor yang biasa kita lihat pada televisi kita merefleksikan kurangnya kenikmatan menonton yang akhirnya menimbulkan poin-poin yang mengurangi estetika film dari aspek manapun.

     Semoga program ini dapat menjadi sarana mengembangkan pemahaman bagi kita semua akan usaha dari pembuat film, penonton dan film itu sendiri.

Selamat Menonton!

     Film yang akan diputarkan pada Program Kuratorial ini adalah :

Hantu Mekanis / Dokumenter / 18.17 / Tunggul Banjaransari / 2017

SINOPSIS :

   Membayangkan Jerman melalui penggiringan media massa yang memperlihatkan kegemilangan tokoh politik, ikon olahraga, dan tatanan kewilayahannya, ternyata tidak sepenuhnya tampak memukau pada beberapa wilayah. Salah satunya adalah wilayah Welzow, sebuah desa kecil di Jerman bagian timur yang dikepung pertambangan batu bara sektor privat. Masyarakatnya tampak abu-abu, ada yang menerima, ada pula yang memiliki ambisi besar untuk memberontak. Populasi yang kecil membuat mereka harus menjaga sikap sama lain untuk tidak memperkeruh masalah hingga muncul perpecahan diantara mereka. Karenanya, pergaulan mereka menjadi semu. Dengan kondisi seperti itu, tanpa memberikan intimidasi atas terjadinya ketidakadilan, film ini lebih mengulik kebahagiaan mereka yang pernah dialami dan imajinasi kebahagiaan yang akan terjadi pada diri mereka mendatang.
.

Tunggul Banjaransari

Tunggul Banjaransari

Director

Profil Sutradara

Tunggul lahir di Solo, kini ia tinggal di Gunung Kidul bersama istri dan anaknya. Ia bekerja sebagai pengajar film di Prodi Film & TV Udinus, Semarang. Pada dasarnya, Tunggul adalah pembuat film, namun waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menonton film daripada membuat film. Ia menyadari kesulitannya untuk menjadikan pembuatan film sebagai profesi, kecuali jika industri Bollywood menginginkannya untuk membuat film. Ia tidak akan menolak tawaran tersebut, karena peluang untuk membeli mobil Ferrari edisi terbatas juga semakin besar, selain itu, istrinya juga tak perlu turut bekerja untuk menjadi kaya raya.

email : –

Gaza-Hollywood / Dokumenter / 15 menit  / Saud Muhanna / 2017

SINOPSIS :

   Gaza-Hollywood is a documentary film that tackles the poor cinema industry in the Gaza Strip. Through humble facilities, Gazan film makers seek to send their messages the whole world.
.

Saud Muhanna

Saud Muhanna

Sutradara

Director’s Profile

BA holder of Film Directing from Baghdad. He is the founder of Palestine Satellite channel and the manager of Films Program until 2005. He is also the head of the Palestinian Film Forum. He directed many documentaries and films. His films won many prizes in international and Arab film festivals. He’s a lecturer in many Palestinian and Arab universities. He participated in many film festivals as a Governing Board member and also as a head of some of these Boards.

email : saud.palfilm@gmail.com

What’s Wrong With My Film / Fiksi Pendek Mahasiswa / 6.36 / Roberto Rosendy / 2018

SINOPSIS :

   Youric menyandra Rere dikarenakan tunangannya Sukma selalu menganggu bisnisnya. Sukmapun datang menghadapi Youric dan pasukannya, guna menyelamatkan tunangan beserta membersihkan kotanya dari mafia. Akankah Sukma dapat melakukannya?
.

Roberto Rosendy

Roberto Rosendy

Director

Profil Sutradara

kelahiran Bandung 21 januari 1997 ini menempuh studinya di ISBI Bandung, sudah beberapa kali menggarap film dan film terakhirnya adalah Whats Wrong With My Film di tahun 2018

email : –

Kurator :

Baruna Ary Putra

Seorang Programmer Kompetisi Malang Film Festival 2018 ini merupakan pegiat film yang juga aktif di beberapa pemutaran alternatif di Malang. Ditahun sebelumnya ia juga terlibat di Malang Film Festival sebagai kurator sekaligus Programmer Non-Kompetisi. Mulai mengenal produksi film semasa SMA. Berfokus pada pasca produksi, ia berhasil menyelesaikan banyak film pendek di Malang. Ia sedang fokus dalam pengerjaan produksi film dokumenter pertamanya, The Land Where Thousand Flowers Fell yang masih dalam tahap pra-produksi. Hingga saat ini ia masih berusaha menyelesaikan Studinya dibidang Teknik Elektro di Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang.