Pada Sabtu (13/4), diselenggarakan Program sesi Malangan, program yang ditujukan untuk mewadahi pemutaran film-film yang merupakan karya pembuat film yang berasal dari Malang ataupun karya-karya film yang mampu menyuarakan budaya dan kondisi Kota Malang saat ini. Lewat suguhan karya Sesi Malangan ini, kami berharap dapat mendorong para penonton lokal untuk bersama-sama membuka mata atas potensi film pendek di Malang yang masih dapat terus dikembangkan bersama lewat berbagai bentuk dukungan dan apresiasi.

Ada 4 film yang diputar pada saat Sesi Malangan kali ini, salah satunya ialah film dokumenter  berjudul Pusenai, The Last Dayak Basap yang disutradarai oleh Fajaria Menur. Keunikan dari film ini ialah sutradaranya yang  tidak memiliki background sebagai filmaker, namun dia dapat memukau para penonton dengan film yang dibuatnya “Nyentil banget ceritanya, apalagi ketika masyarakat Dayak Basap diharuskan pindah kesuatu tempat karena lahan tempat tinggalnya tersebut akan dibuat lahan perkebunan sawit” Ujar Muhammad Zainur Rozikin selaku moderator pada Sesi Malangan kali ini.

Tidak hanya dokumenter, film fiksi karya Afrizaldy yang berjudul Gitar Fajar juga ditayangkan pada Sesi Malangan ini. Film ini mengangkat tema tentang ? anak kecil “alasan saya membuat film ini, karena ketika saya datang kelingkungan kecil saya, banyak anak-anak yang menyanyikan lagu orang dewasa, sehingga itu membuat saya prihatin” Papar Afrizaldy.(faf)