Tahun ini, Malang Film Festival kembali menghadirkan program Temu Komunitas pada hari Jumat kemarin (12/4). Kali ini, program temu komunitas membahas mengenai distribusi di era platform digital. Diambilnya topik pembahasan ini, karena kebanyakan kendala yang dialami oleh komunitas salah satunya adalah saat mendistribusi film mereka. “Mindset mereka itu, aku produksi  film tapi cuma sampai situ  kemudian selesai. Tidak banyak yang tau mengenai pendistribusiannya” tutur Agnina, selaku programmer Mafi Fest 2019 menegaskan.

Setelah berhasil memproduksi sebuah film, tentunya kita berharap para penonton menikmati film kita. Merupakan sebuah harapan yang besar apabila hasil karya kita dapat diterima masyarakat luas. Untuk mencapai itu tentunya kita butuh publikasi yang juga bersangkutan dengan distribusi. “Publikasi yang baik itu bisa memperluas banyak orang menikmati karya itu” ucap Melati Noer Fajri, founder Parade Film Malang.

Melati juga menyatakan bahwa pemutaran dan produksi itu 2 hal yang sangat berkaitan. Apabila pemutaran tidak berjalan lancar, maka prodes produksi kita tidak terbayarkan. “Yang dibutuhkan komunitas Indonesia itu satu, niat.” imbuhnya.

Dalam penditribusian film, tentunya sebelumnya kita harus mengetahui targetnya. Seperti yang disampaikan Tjandra Wibowo yang juga menjadi pembicara dalam sesi ini. “Sebagai komunitas harus sadar benar bahwa mereka harus hidup dengan filmnya, sehingga hal mengetahui target itu penting” imbuhnya.

Ia juga menambahi mengenai platform yang ia kembangkan. Stockshot adalah platform berisi footage tentang Indonesia yang merupakan hasil dari anak bangsa. “Ini bisa memicu teman-teman melengkapi stocknya” tambah Tjandra yang juga menjadi juri film dokumenter di Mafi Fest 2019 ini.(naf)