Penayangan film khusus merupakan program pemutaran yang berfokus sebagai wadah untuk mengapresiasi film panjang. Tanpa mengabaikan Tema Festival, film yang ditayangkan tidak lepas dari landasan sebuah proses sintesis.  Penayangan khusus  pada Jumat kemarin (12/4), memutarkan film yang berjudul  Istri Orang di Teater DOME Universitas Muhammadiyah Malang.

Pada penayangan khusus  ini, dilengkapi dengan sesi diskusi yang dihadiri langsung oleh Melati Nur Fajri selaku produser film dan Dirmawan Hatta selaku sutradara, yang meskipun tidak bisa hadir secara langsung di tempat, tetapi tetap hadir melalui tayangan Skypee. Saat sesi ini, Melati menyampaikan kalau film ini memgangkat isu tentang peran dan stigma perempuan dalam balutan budaya. “Sebenernya yang dilakukan kita adalah bagaimana menggali gagasan-gagasan lokal dan juga isu-isu domestik yang ada” Ujarnya.

Mengangkat isu tentang perempuan yang kompleks, Istri Orang didukung dengan cara penuturan film yang benar-benar menjaga kualitas tempo. Tempo dari film ini seakan-akan dibuat agar para penonton dapat merasakan perasaan tertekan, sama seperti apa yang dirasakan oleh sang pemeran.

Di balik film Istri Orang, terdapat hal yang unik, yaitu film ini diproduksi di Pulau Kangean, bersama para masyarakat lokal pulau tersebut. “Keragaman Indonesia, budaya Indonesia harus disampaikan oleh orang-orang yang paling berkompeten untuk melakukan itu, ya siapa kalo bukan orang-orang lokal itu sendiri” Jelas Dirmawan.

Dipilihnya Film ini untuk diputar pada penayangan khusus, karena film ini membawa isu yang aktual. Isu tentang perempuan yang masih ada sampai sekarang dan belum terselesaikan. karena latar belakang produksi film ini  yang merupakan hasil workshop. Skenario ditulis bersama, dan yang menulis juga memproduksi film ini sendiri  “Jadi secara implisit menginterpretasikan tentang sintesa ini sendiri. Kolaborasi yang ingin kita tonjolkan diperlihatkan pada film ini dalam proses produksinya” papar Agnina Rahmaddinia selaku programmer Malang Film Festival 2019.(noy)