Pada hari kedua Malang Film Festival 2019, Program Kompetisi kembali menjadi salah satu rangkaian acara yang diminati para sineas. Meskipun venue sempat diguyur hujan saat sore hari, tidak menjadi halangan para penikmat film berdatangan untuk melihat hasil karya para filmmaker muda. Setelah di hari pertama menayangkan 14 film fiksi dan dokumenter, pada hari kedua ini sebanyak 9 film diputar dengan membaginya menjadi 2 sesi.

Film yang ditayangkan hari ini, tidak kalah menarik dari hari sebelumnya. Salah satu film yang banyak menarik penonton adalah film bergenre horor dengan judul “Dhayoh”. Arwani Masykur Zakki, sebagai sutradara mengambil latar belakang yang berbeda dari film horror biasanya, sehingga membuat film ini unik. Film ini menceritakan sosok ibu yang seharusnya menyayangi anaknya, menjadi menghantui anak laki-lakinya. Para penonton pun terbawa suasana tegang, sekaligus menangkap pesan dalam film ini.

Pada saat diskusi para penonton juga mengikuti dengan antusias, terlihat dari penonton saat menyimak para filmmaker berbagi kisah saat proses pembuatan film mereka. Ternyata menjadi seorang filmmaker juga menuntut kita untuk bisa peka dengan lingkungan sekitar, karena ide cerita bisa didapatkan dari lingkungan sekitar. Seperti Rayhan Syafiq, Sutradara film Siti Madosi Gusti yang mengambil tema keagamaan yang dekat hubungannya dengan kehidupan kita. Dalam film ini Rayhan ingin menyampaikan bahwa agama merupakan hal yang penting dalam diri kita. “Karena agama adalah pegangan hidup kita, jadi kalau kita tidak ada pegangan hidup maka hidup kita akan kacau” imbuhnya.

Untuk menghasilkan sebuah karya yang luar biasa, para filmmaker seringkali melalui proses yang tidak mudah. Seperti yang diungkapkan Roby, salah satu sutradara film yang dikompetisikan. “Menurut saya film itu merupakan proses, jadi nikmati aja prosesnya, karena semua juga berproses dengan begitu kita dapat banyak pembelajaran” Ungkapnya.(naf)