Program Malang Film Festival  (MAFI Fest)  pada 11 April 2019 ini merupakan salah satu yang ditunggu-tunggu oleh para sineas, penayangan khusus kali ini menayangkan film dokumenter Nyanyian akar rumput yang disutradarai oleh Yuda Kurniawan. Film ini menceritakan tentang  Fajar Merah (21 Tahun) putra Wiji Thukul – seorang sastrawan dan aktivis HAM yang “dihilangkan” pada tahun 1998 oleh rezim Presiden Soeharto. Bersama band Merah Bercerita yang dibentuknya sejak tahun 2010 dan didukung oleh keluarganya, ia mencoba menghidupkan kembali puisi-puisi Ayahnya, membalutnya ke dalam alunan nada dan merekamnya dalam sebuah album. Ditengah dinamika Pemilihan Presiden 2014, setelah 16 tahun tragedi 98 berlalu. Timbul harapan baru bagi Fajar Merah dan keluarganya kepada calon Presiden Joko Widodo untuk dapat menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM, menemukan Wiji Thukul dan korban penghilangan paksa lainnya.

Dari film dokumenter tersebut kita dapat menangkap bahwa pada jaman sekarang untuk menyuarakan aksi lebih efisien melalui lagu, apalagi jika sasaran nya ialah anak muda. itulah kenapa Yuda memutuskan untuk membuat film ini, karena ini tentang musik yang bahasanya universal. Dimas, sebagai penonton mengaku tertarik denga film ini karena judulnya “walaupun sebenarnya sebagian besar film ini menceritakan tentang kehidupan Fajar akan tetapi tidak membuat nyanyian akar rumput ini sendiri hilang” ucapnya.

 Ada cerita unik dibalik terpilihnya Nyayian Akar Rumput  sebagai judul. Awalnya Yuda memakai judul “Mencari Wiji Thukul, namun Fajar tidak suka dengan judul tersebut karena Fajar tidak ingin membebani dirinya dengan judul tersebut yang seakan-akan harus mencari ayahnya. Hingga pada akhirnya saat Yuda sedang melihat-lihat album  Wiji Thukul ia menemukan salah satu judul pusisi Wiji Thukul pada tahun 1988 yang berjudul “Nyanyian Akar Rumput” tersebut.(noy)