Konsistensi Malang Film Festival (MAFI Fest) sebagai festival film pendek di Indonesia sudah tak diragukan lagi. Selama 15 tahun perjalanannya, MAFI Fest terus menjadi wadah untuk berkarya bagi para sineas muda berbakat, khususnya mahasiswa dan pelajar yang ada di Indonesia. 

      Selain menjadi wadah untuk berkarya, MAFI Fest juga menjadi ajang titik temu karya-karya filmmaker dengan penonton nya di seluruh Indonesia. Semarak acara tahunan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kine Klub Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali terasa dengan digelarnya acara pembukaan yang dilaksanakan di Theater Dome UMM pada Rabu (10/4) mulai pukul 19.00.

​Setelah semua pengunjung memasuki area Theater Dome, pembukaan dimulai dengan penampilan dari Teater Sinden UMM. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Sang Surya. Pembukaan selanjutnya diisi dengan sambutan oleh Aliya Dwi Citra selaku Direktur MAFI Fest 2019, Muhammad Zainur Rozikin selaku ketua umum Kine Klub UMM dan Kepala Biro Kemahasiswaan UMM. Setelah sambutan, festival film yang akan berlangsung selama 4 hari ini, kemudian resmi dibuka secara simbolis dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali.

​Acara dilanjutkan dengan pemutaran film pembuka yaitu Gula dan Pasir karya Sarah Adillah yang bercerita tentang perjalanan penuh konflik antar kakak beradik Ila dan Iko dalam mempertahankan sebuah layang-layang, perubahan dan satu bungkus gula didaratan berpasir. Dipilihnya film ini sebagai film pembuka karena MAFI Fest itu sendiri mengangkat tema sintesa itu adalah sebuah proses yang memadukan berbagai unsur menjadi sesuatu yg baru. Sehingga bisa kita interpresentasikan juga dalam bentuk perkembangan. Film ini secara teknis dan isu cukup menggambarkan tentang pertumbuhan itu sendiri. Dalam hal teknis kita bisa lihat visualisasi yang kontras dimana ada kehidupan yang sederhana tapi juga di tengah pembangunan yg seperti itu, sebuah perubahan yang kaya dari bentuknya, yang masih menyatu dengan alam. Dan dengan menggambarkan cerita scene anak laki-laki dan perempuan yg dimana itu menggambarkan bibit dan keseimbangan. Sehingga mampu membius para pengunjung, dibuktikan dengan tepuk tangan yang sangat meriah saat film ini selesai ditayangkan. “Saya melihat dari sisi tampilan film. Pemilihan cerita untuk filmnya sangat luar biasa dan dapat mengekspresikan kondisi lingkungan kita.” Jelas Abdul Majid, selaku Kepala Subbidang Rancangan dan Produksi Radio, Televisi dan Film.

​Salah satu hal yang membuat acara pembukaan makin meriah adalah hadirnya komunitas-komunitas dari seluruh Indonesia. Bukan hanya komunitas dari dalam Jawa saja yang datang, tetapi komunitas luar Jawa pun turut memeriahkan perhelatan MAFI Fest 2019 ini. Salah satu contohnya adalah Indy dari komunitas Sanggar Seni Kaktus yang berasal dari Kota Palu. Ini adalah kali pertama Indy menghadiri MAFI Fest, namun perempuan cantik tersebut mengaku senang dapat hadir di MAFI Fest 2019.

 

“Karena baru pertama kali ikut kegiatan seperti ini kesannya senang, dapat pengalaman baru tentang MAFI Fest dan filmnya keren-keren” Jelas Indy.

​Selain menunjang ranah Apresiasi, MAFI Fest di tahun ini juga mecoba mendalami ranah edukasi, dan oleh karena itu, beberapa program ditujukan untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi para filmmaker khususnya dalam bidang perfilm-an, yang diharapkan mampu membuat perfilm-an Indonesia semakin baik. “Untuk MAFI Fest sendiri, kita gak hanya fokus pada festival saja, tapi kita juga mengadakan kelas-kelas dimana kelas-kelas ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan dari komunitas-komunitas film yang ada.” jelas Dwi Yusrika Tautin, asisten programmer MAFI Fest 2019. (ska)