Kamila Andini, seorang filmmaker yang usianya tergolong masih muda ini telah menyutradarai berbagai film dan telah menyabet beberapa penghargaan dari hasil-hasil penyutradaraannya. Beberapa karya filmnya adalah The Mirror Never Lies (2011), Memoria (2016) dan Sekala Niskala (2017).

     Baru-baru ini, filmnya yang berjudul Sekala Niskala (The Seen and Unseen) telah diputar di berbagai Bioskop dan Festival dan mendapatkan berbagai respon dan tanggapan yang positif dari penonton – penontonnya. Terbukti, film yang berlatarkan tempat di Bali ini mendapatkan rating 7.0 di IMDb.com dan mendapat berbagai review positif yang bisa ditemukan di berbagai media sosial.

     Dikarenakan pengalamannya di bidang perfilman, MAFI Fest 2018 mengundang Kamila Andini untuk mengisi program Kisah perjalanan Kamila Andini dalam Sekala Niskala di Auditorium BAA. Tujuan diadakannya program ini adalah untuk menghadirkan ruang sharing dan diskusi antara para peserta Program ini dan Kamila.

     Pada awal membawakan materi, Kamila Andini menanyakan kepada peserta tentang pandangan mereka mengenai sutradara itu apa. Setelah beberapa peserta mengutarakan pendapatnya tentang sutradara, Kamila kemudian menjelaskan pandangannya tentang dirinya sebagai sutradara. Menurutnya sutradara adalah cerita yang sedang bercerita, karena film adalah sesuatu yang personal maka penting untuk menggunakan cerita yang dekat dengan diri sendiri. Dalam memproduksi film-filmnya perempuan kelahiran 1986 ini kerap menerapkan pendekatan dokumenter. Karena menurutnya proses kreatif itu adalah research yang kemudian dari hasil research ini para filmmaker bisa lebih peka untuk melihat kelebihan, kekurangan dan potensi dari ceritanya.

     Kamila juga menekankan agar para filmmaker melakukan pendekatan kepada ceritanya dan juga kepada dirinya sendiri karena begitu penting untuk membangun relasi, inter relasi, kompleksitas dan emosi dari film yang dibuat.

     Di program ini Kamila juga bercerita tentang mengapa dia memilih film sebagai Sarananya untuk bercerita. “Saya tidak pernah merasakan sangat berat saat membuat film, kalaupun berat saya merasa itu adalah sebuah challenge bagi saya. Saya merasa saya punya medium yang gak ada batasnya karena saya bisa ngomongin apa aja yang suka tentang seni dan itu asyik banget” ungkap Kamila saat sesi materinya.

     Berkat pembawaan materi Kamila yang detail dan mudah dipahami, 47 peserta yang hadir bisa merasa puas karena telah mendapatkan pandangan, ide dan inspirasi baru. Peserta juga tak segan-segan untuk memanfaatkan sesi tanya jawab bersama Kamila. Pertanyaan yang diajukan oleh peserta sangat beragam seperti hobi touringnya Kamila andini untuk research, sumber pendanaan Sekala Niskala dan ada juga yang meminta saran untuk crowd funding untuk film yang akan diproduksinya.

     Salah satu peserta program yang bernama Ryan Sebastian mengakui kalau banyak hal yang bisa didapatkan dari program ini seperti cara-cara mencari dana, menulis cerita lebih lanjut, pendekatan kepada cerita dan pendekatan kepada diri sendiri. Ia juga merasa bangga karena bisa bicara langsung kepada Kamila. “Berasa jadi suatu kebanggan bisa ngobrol dengan sosok yang jadi inspirasi saya dalam membuat film, karena flmnya tidak terlalu banyak dialog tapi memiliki cerita yang begitu kuat ketika kita menonton film dari mbak Kamila Andini” ungkap pelajar yang dua filmnya lolos kurasi MAFI Fest 2018 tersebut.(adt/gan)