Diskusi Umum .Dokumentasi oleh MAFI FEST

Salah satu program non-kompetisi yang dimiliki oleh Malang Film Festival 2017 adalah Diskusi Umum. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Tim Komunitas Malang Film Festival 2017 itu bertempat di Ruang Sidang Student Center lantai 4, Universitas Muhammadiyah Malang.

Tema diskusi kali ini yaitu sineas, roda, dan gerakan. Ketiga kata yang digunakan dalam diskusi siang itu tentu memiliki arti. Bentuk lingkaran pada roda yang berarti mampu berputar sehingga muncul adanya gerakan-gerakan.Begitu pula dengan sineas yang diharapkan dapat memberikan gerakan ataupun perubahan masyarakat menjadi lebih baik. Mayoritas daerah di Indonesia adalah daerah pedesaan yang masih jauh dengan teknologi membuat beberapa sineas melakukan pergerakan untuk mengedukasi masyarakat melalui film. Seperti halnya yang dilakukan oleh 2 komunitas (Gubuak Kopi dan Layar Kemisan) yang menjadi narasumber diskusi umum pada siang hari itu.

Fauzi Ramadhani salah satu narasumber dari Layar kemisan itu mengatakan dalam membuat film tidak hanya proses memproduksi saja melainkan ada nilai edukasi yang diberikan kepada masyarakat. Beberapa tahun yang lalu, Fauzi pernah membuat film documenter di salah satu desa yang ada di Banyuwangi. Film tersebut mengangkat isu tentang pertamabangan yang ada di Banyuwangi pada saat itu. Dalam prosesnya, Fauzi memberikan 2 alat perekam video kepada petani agar merekam segala moment yang terjadi di daerahnya. “Satu bulan pertama memang hasil videonya berantakan, tapi bulan kedua hasil videonya sudah bagus,” Jelas Fauzi Ramadhani yang juga merupakan Penggiat Kampon di rumah seni dan sastra Guyub Among Deso.

Selain dari Layar Kemisan, narasumber lainnya yaitu Delva Rahman dari komunitas Gubuak Kopi, Kota Solok, Padang, Sumatera Barat. Komunitas yang memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif pada warga itu dapat membangun ruang-ruang alternative bagi pengembangan kesadaran dan kebudayaan di tingkat lokal. Menurut Delfa, mayoritas masyarakat yang ada di Solok merupakan masyarakat yang masih memiliki pengetahuan yang rendah. Oleh sebab itu melalui Pojok Sineas salah satu program dari Gubuak Kopi tersebut bermaksut untuk mengenalkan film kepada masyarakat. Seperti kala itu, terdapat sebuah pasar ikan di Solok yang sangat besar,namun adanya pembangunan pada masa orde baru membuat pasar tersebut di rubah sedemikan rupa. Pada kejadian itu, banyak masyarakat yang berkomentar tentang itu, untuk mengabadikan moment tersebut, Gubuak Kopi membuat film tentang hal itu yang kemudian ditayangkan dan dilihat oleh warga setempat. “Sebuah komunitas tidak hanya sebagai fasilitator saja, namun juga membawa pergerakan kepada masyarakat agar lebih maju dan edukatif serta mampu mengenal isu-isu yang ada di lingkungan sekitar,” ungkap Delva pada diskusi siang hari itu. (Handa)

0
Connecting
Please wait...
Send a message

Sorry, we aren't online at the moment. Leave a message.

Your name
* Email
* Describe your issue
Login now

Need more help? Save time by starting your support request online.

Your name
* Email
* Describe your issue
We're online!
Feedback

Help us help you better! Feel free to leave us any additional feedback.

How do you rate our support?