Diskusi Umum bersama BW Purwanegara .Dokumentasi oleh MAFI FEST

Pada hari ketiga (13/4) Malang Film Festival 2017 memilki daya tarik tersendiri karena menghadirkan salah satu sutradara kondang tanah air dari Yogyakarta yaitu B.W. Purbanegara. Dalam pemutaran sesi pertama di hari ketiga yang terselenggara di Theatre Dome UMM ini memutarkan film-film karya BW Purbanegara yang berjudul Digdaya Ing Bebaya, Jerat Samsara, dan #akuserius.

Ketiga film karya BW Purbanegara itu satu diantaranya adalah film Dokumenter pendek (Digdaya Ing Bebaya), dan dua diantaranya adalah film fiksi pendek (Jerat Samsara, dan #akuserius ). Film Degdaya Ing Bebaya sendiri bercerita tentang pasca erupsi gunung merapi. Dalam diskusi setelah pemutaran, BW Purbanegara menjelaskan bahwa film tersebut menceritakan tentang ketangguhan warga lereng gunung merapi pasca erupsi pada     tahun 2010 . Salah satu juri dari Malang Film Festival 2017 itu sengaja mengambil aktor yang sudah tua karena setelah melakukan riset, BW Purbanegara menjumpai banyak sekali orang-orang yang sudah tua dan tetap bersemangat meski pasca meletusnya gunung merapi.”Hal itulah yang akhirnya patut untuk di dokumentasikan,”ucap B.W. Purbanegara.

Film selanjutnya yaitu Jerat Samsara, dalam ide film tersebut BW Purbanegara berfikir bahwa penderitaan seseorang terlahir dari diri mereka sendiri. Ketika seseorang tersebut sedang berada pada situasi yang ungood kemungkinan terjadi mereka akan merasa menderita. Dalam hal ini, lelaki yang kerap dipanggil mas BW itu mengakui bahwa dirinya pun pernah mengalami hal yang demikian. Oleh sebab itu melalui film lah ia menuangkan gagasan bahwa penderitaan terlahir dari diri sendiri, tidak dari orang lain. Mas BW menambahkan untuk menghadapi hal itu, ia sering melakukan meditasi agaruntuk menenangkan dan merilekskan pikiran-pikirannya. Berbeda dengan film Degdaya Ing Bebaya dan Jerat Samsara, film #akuserius# menceritakan sepasang kekasih yang ingin membuat sebuah film tentang pertemuan mereka. Namun, hal itu kerap kali gagal karena ada beberapa kejanggalan yang terjadi saat mereka mengambil gambar. Dalam film tersebut, Mas BW mengaku bahwa sebenarnya film tersebut adalah film refreshing Mas BW setelah memproduksi film Ziarah yang memakan waktu cukup lama. “sebenarnya film #akuserius lahir karena saya berfikir saya butuh refreshing setelah produksi film Ziarah,” ungkapnya.

Pada siang hari itu, Amanda salah satu penonton Malang Film Festival 2017 yang mengikuti diskusi bersama BW Purbanegara menanyakan hal apa yang masih belum bisa dicapai oleh BW Purbanegara mengingat sudah banyak sekali film-film karya BW Purbanegara yang lolos dalam beberapa festival film baik nasional maupun internasional. Menanggapi hal tersebut, BW Purbanegara mengatakan bahwa bagi Mas BW, film adalah hidupnya, jadi ketika ada pertanyaan mengenai apa yang belum tercapai, ia mengaku ia tidak harus memaksa dirinya agar film yang ia buat masuk daalm festival ini dan itu. Karena bagi Mas BW, ketika kita memiliki pikiran yang seperti itu, maka hal itu dapat mempengaruhi kejujuran kita. Oleh sebab itu ia berfikir, dalam menjalani hidup biarkan saja seperti air mengalir.  (Handa)