Program Malang Sinau Dokumenter (SinDok) menyapa pengunjung Malang Film Festival 2017 melalui program non kompetisi Ruang Apresiasi. Setelah beberapa bulan yang lalu para peserta Malang Sinau Dokumenter (SinDok) dari SMKN 5 Batu, SMKN 12 Singosari, SMKN 2 Singosari dan SMKN 11 Singosari melakukan proses produksi, tepat pada hari ini Rabu(12/4) bertempat di  Theater Dome UMM, seluruh karya film teman-teman peserta Malang SinDok akhirnya di launching.

          Film Brrr!!! Karya dari teman-teman SMKN 3 Batu menjadi film pembuka dalam program Ruang Apresiasi Malang SinDok, mengangkat isu pekerja pramuwisata yang jarang diangkat, menjadi alasan kenapa teman-teman SMKN 3 Batu memilih isu ini. Bercerita tentang bagaimana  para pekerja pramuwisata yang ada di kota Batu tepatnya di daerah Wisata Songgoriti bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, hal ini terlihat dari banyaknya orang-orang yang menggeluti pekerjaan ini dari pagi hingga dini hari.

          Selanjutnya film dari SMKN 12 Singosari dengan judul Generasi Menunduk menjadi film kedua. Dengan mengangkat isu sosial yang ada disekitar, pesan yang disampaikan sutradara menjadi mudah tersampaikan kepada penonton. Bercerita mengenai masyarakat yang menjadi ketergantungan terhadap Handphone merubah perilaku masyarakat menjadi individualis. Menurut  sutradara Elsa Velyana menganggap bahwa film ini adalah film yang nakal karena film ini meniadakan script dan hanya melakukan treatment sederhana tanpa melakukan pendekatan terhadap subjek.

          Berbeda dengan film pertama dan kedua, film ketiga berjudul Hening, karya teman-teman SMKN 5 Malang. Film tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi penonton karena bercerita tentang sepasang suami istri yang membuka usaha cuci motor dengan keterbasan yang dimiliki. Keduanya memiliki kekurangan yakni seorang istri yang bisu dan seorang suami yang tuli sehingga menjadikan film ini terlihat berbeda. Demi membangun feel penonton masuk dalam film audio dari film sengaja dibuat noise. Sutradara dari film ini mengungkapkan bahwa audio yang noise tersebut dibuat agar penonton tau apa yang dirasakan oleh subjek. Sutradara mengungkapkan kendala dari produksi film ini yaitu ketika melakukan pendekatan dengan subjek yang memiliki keterbatasan menjadi tantangan tersendiri bagi semua kru, melalui pesan tertulis sutradara mencoba mendekati subjek. Dengan durasi yang singkat film ini masih mampu menyentuh emosi para penontonnya.

          Film selanjunya yaiu dari SMKN 11 Malang dengan judul Rahwana Cilik yang menjadi film penutup dalam program Ruang Apresiasi Malang SinDok kali ini. Sosok anak kecil yang menggemari tokoh pewayangan Rahwana menjadi motivasi ia menjadi Dalang Cilik yang handal. Menceritakan kehidupan sehari-hari dari sosok Dalang Cilik yang mulai menggeluti dunia perwayang sejak umur 6 tahun. Kehidupan sang Dalangpun diceritakan melalui dialog interview yang divisualisasikan pentas perwayangan menjadikan film ini sangat menarik dan berbeda dari yang film dokumenter pada umumnya. (Ayun)